Hey ! Setelah lama menunggu, akhirnya selesai juga membaca novel ini. Terhitung lama ketika aku membaca novel ini. Butuh 2 x pinjaman di perpustakaan sekolahku. Yang sekali pinjaman itu di berikan waktu selama 2 minggu untuk membaca buku. Tapi karena keterbatasan waktu yang aku miliki, waktu 2 minggupun aku juga belum selesai membaca novel ini. Akhirnya aku memperpanjang masa aktif peminjaman novel ini. Setelah 4 minggu berlalu aku selesai juga membaca novel ini. Seperti novel yang sebelumnya yang aku baca, aku juga mencatat beberapa kutipan dari novel Rantau 1 Muara. Langsung aja ini dia kutipan dari Rantau 1 Muara yang aku pilih sendiri !!
HERE THEY ARE :
Tentulah aku beruntung. Seandainya dia tahu
dan merasakan bagaimana aku mengorbankan kenikmatan-kenikmatan sesaat untuk
bisa sampai “beruntung”. Berapa ratus malam sepi yang aku habiskan sampai dini
hari untuk mengasah kemampuanku belajar, membaca, menulis, dan berlatih tanpa
henti. Melebihkan usaha di atas rata-rata orang lain agar aku bisa meningkatkan
harkat diriku.
![]() |
| Novel Rantau 1 Muara |
Aku belajar satu hal baru. Memang impian bisa jadi nyata tapi yang nyata bisa jadi hampa.
Aku belajar satu hal baru. Memang impian bisa jadi nyata tapi yang nyata bisa jadi hampa.
Sesuatu itu bisa indah pada waktunya.
Setiap orang tentu berhak merasa nyaman atau
tidak dengan orang lain.
Atas dasar apa aku merasa kehilangan? Tidak
memiliki, kok kehilangan
Aku diajarkan untuk tidak meremehkan impian
setinggi apapun karena sungguh Tuhan Maha Mendengar. Cita-cita yang baru berupa
bisikan di dalam hari terdalam, telah terdengar oleh-Nya dan bisa jadi nyata.
Perjuangan tidak boleh berakhir, bahkan ketika semua tampaknya akan gagal.
Sebelum titik darah penghabisan, dan peluit panjang, tidak ada kata menyerah.
Terus berjalan, terus maju, sampai tujuan. Maan
saara ala darbi washala. Sebuah konsistensi mengalahkan ketidakmungkinan.
“Iya, sampai ketemu. Entah kapan.”
Betapa pendeknya umur kita. Jangan
menunda-nunda sesuatu yang penting. Karena kalau hilang, hilang selamanya. Yang
ada hanyalah penyesalan yang akan hadir selamanya.
Impian itu benar-benar bisa jadi nyata.
Kebenaran dan kebohongan kadang batasnya lebih
tipis dari kulit ari.
Hilang tidak jelas itu ternyata lebih
meresahkan daripada mati yang pasti. Rasa kehilangan itu berkepanjangan dan di
dalam hatiku selalu ada sebuah lubang menganga yang tidak pernah benar-benar
sembuh.
Tuhan itu memang Maha Memilihkan yang terbaik
buat siapa saja yang melihat dengan hati terbuka.
Aku jadi ingat sebait kata mutiara yang
diajarkan di Pondok Madani dulu, aduwwun
aqilun khairun min shadiqin jahilin. Lawan yang pandai lebih baik daripada
teman yang bodoh.
Biarlah orang lain berpikir berbeda karena
kami memang berbeda. Setiap orang punya pilihan, prioritas, dan misi hidup yang
berbeda. Tidak ada yang bisa mengklaim lebih benar dari yang lain. Sairiang batuka jalan, begitu kata orang
kampungku. Seiring tapi berbeda jalan.
Membuat keputusan itu lebih baik daripada
pasrah menunggu orang lain memutuskan hidupku.
Aku menolak untuk mengeluh tentang kegetiran,
aku tidak mau mabuk dengan kesenangan. Getir dan senang, keduanya telah
melengkapi racikan hidup ini.
Hidup ini ibarat mengayuh biduk membelah
samudra hidup. Selamanya akan naik-turun dilamun gelombang dan ditampar badai.
Tapi aku tidak akan merengek pada air, pada angin, dan pada tanah. Yang membuat
aku kukuh adalah aku tahu kemana tujuan akhirku di ujung cakrawala. Dan aku
tahu aku tidak sendiri. Di atas sana, ada Tuhan yang menjadi tempat jiwa ragaku
sepenuhnya bertumpu.
sumber gambar : http://goo.gl/bSzOCi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar