Selasa, 17 Februari 2015

Kutipan Novel Rantau 1 Muara

Hey ! Setelah lama menunggu, akhirnya selesai juga membaca novel ini. Terhitung lama ketika aku membaca novel ini. Butuh 2 x pinjaman di perpustakaan sekolahku. Yang sekali pinjaman itu di berikan waktu selama 2 minggu untuk membaca buku. Tapi karena keterbatasan waktu yang aku miliki, waktu 2 minggupun aku juga belum selesai membaca novel ini. Akhirnya aku memperpanjang masa aktif peminjaman novel ini. Setelah 4 minggu berlalu aku selesai juga membaca novel ini. Seperti novel yang sebelumnya yang aku baca, aku juga mencatat beberapa kutipan dari novel Rantau 1 Muara. Langsung aja ini dia kutipan dari Rantau 1 Muara yang aku pilih sendiri !!
 
HERE THEY ARE :


Novel Rantau 1 Muara
Novel Rantau 1 Muara
Tentulah aku beruntung. Seandainya dia tahu dan merasakan bagaimana aku mengorbankan kenikmatan-kenikmatan sesaat untuk bisa sampai “beruntung”. Berapa ratus malam sepi yang aku habiskan sampai dini hari untuk mengasah kemampuanku belajar, membaca, menulis, dan berlatih tanpa henti. Melebihkan usaha di atas rata-rata orang lain agar aku bisa meningkatkan harkat diriku.
 

            
     
 Aku belajar satu hal baru. Memang impian bisa jadi nyata tapi yang nyata bisa jadi hampa.
 
                                                             Sesuatu itu bisa indah pada waktunya.



                 Setiap orang tentu berhak merasa nyaman atau tidak dengan orang lain.
  
               Atas dasar apa aku merasa kehilangan? Tidak memiliki, kok kehilangan
 
 
Aku diajarkan untuk tidak meremehkan impian setinggi apapun karena sungguh Tuhan Maha Mendengar. Cita-cita yang baru berupa bisikan di dalam hari terdalam, telah terdengar oleh-Nya dan bisa jadi nyata.

 
Perjuangan tidak boleh berakhir,  bahkan ketika semua tampaknya akan gagal. Sebelum titik darah penghabisan, dan peluit panjang, tidak ada kata menyerah. Terus berjalan, terus maju, sampai tujuan. Maan saara ala darbi washala. Sebuah konsistensi mengalahkan ketidakmungkinan.
 

                                                                        “Iya, sampai ketemu. Entah kapan.”
 
Betapa pendeknya umur kita. Jangan menunda-nunda sesuatu yang penting. Karena kalau hilang, hilang selamanya. Yang ada hanyalah penyesalan yang akan hadir selamanya.
 
 
                                                       Impian itu benar-benar bisa jadi nyata.
 
                    Kebenaran dan kebohongan kadang batasnya lebih tipis dari kulit ari.


 
Hilang tidak jelas itu ternyata lebih meresahkan daripada mati yang pasti. Rasa kehilangan itu berkepanjangan dan di dalam hatiku selalu ada sebuah lubang menganga yang tidak pernah benar-benar sembuh.
 
 
Tuhan itu memang Maha Memilihkan yang terbaik buat siapa saja yang melihat dengan hati terbuka.
 

Aku jadi ingat sebait kata mutiara yang diajarkan di Pondok Madani dulu, aduwwun aqilun khairun min shadiqin jahilin. Lawan yang pandai lebih baik daripada teman yang bodoh.
 
 
Biarlah orang lain berpikir berbeda karena kami memang berbeda. Setiap orang punya pilihan, prioritas, dan misi hidup yang berbeda. Tidak ada yang bisa mengklaim lebih benar dari yang lain. Sairiang batuka jalan, begitu kata orang kampungku. Seiring tapi berbeda jalan.
 
 
Membuat keputusan itu lebih baik daripada pasrah menunggu orang lain memutuskan hidupku.
 
 
Aku menolak untuk mengeluh tentang kegetiran, aku tidak mau mabuk dengan kesenangan. Getir dan senang, keduanya telah melengkapi racikan hidup ini.
 
 
Hidup ini ibarat mengayuh biduk membelah samudra hidup. Selamanya akan naik-turun dilamun gelombang dan ditampar badai. Tapi aku tidak akan merengek pada air, pada angin, dan pada tanah. Yang membuat aku kukuh adalah aku tahu kemana tujuan akhirku di ujung cakrawala. Dan aku tahu aku tidak sendiri. Di atas sana, ada Tuhan yang menjadi tempat jiwa ragaku sepenuhnya bertumpu.
 
sumber gambar :  http://goo.gl/bSzOCi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar