Ini dia beberapa kutipan yang aku ambil dari novel Sang
Pemimpi :
Sang Pemimpi
Aku terpana
dan langsung paham maksudnya. Luar biasa dan sinting! Itulah Arai dengan
otaknya yang ganjil. Otakku berputar cepat mengurai satu per satu perasaan
cemas, ide yang gila, dan waktu yang sempit.
Arai menyeringai seperti jin kurang sajen. Habis sudah
kesabarannya dan meledaklah serapah khasnya yang legendaris.
Ajaibnya sang waktu, masa lalu yang menyakitkan lambat laun
menjelma menjadi nostalgia yang tak ingin dilupakan.
Setiap dua minggu aku bertemu dengannya, tapi setiap hari
aku merindukannya.
WC itu sudah hampir setahun diabaikan karena keran air yang mampat. Tapi, manusia-manusia cacing, pada intelektual muda SMA negeri yang tempurung otaknya telah pindah ke dengkul, nekat menggunakannya jika panggilan alam itu tak tertahankan. Dengan hanya berbekal segayung air saat memasuki tempat sakral itu, mereka menghinakan dirinya sendiri di hadapan agama Allah yang mengajarkan kebersihan adalah sebagian dari iman.
Ingin rasanya aku menggosok gigi Jimbron dengan sikat ubin
WC itu, tapi aku masih sabar.
Kejadian ini terjadi seperti refleks, sangat cepat di luar
kendaliku. Kemarahan setinggi puncak gunung terjadi satu detik, dan detik
berikutnya, hatiku dingin seperti sebongkah es. Aku langsung terpuruk karena
menyesal. Bukankah aku selalu berjanji kepada diriku sendiri akan selalu
melindunginya?
Aku sedih menyadari ada sosok lain dalam diriku yang
diam-diam bersembunyi, sosok yang tak kukenal. Sosok itu menjelma dengan cepat,
lalu mendadak lenyap meninggalkan aku berdiri sendiri di depan Jimbron, yang
ditumpuki rasa bersalah. Aku merasa sebagian diriku telah mengkhianati bagian
diriku yang lain.
kuusahakan gaya bicaraku sebijaksana mungkin, seperti
penyuluh KUA menasihati orang yang ingin menjatuhkan talak tiga.
dan menyebut “sahabatku” itu, kubuat nada suaraku selembut
sutra dari Kashmir.
Kami berpandangan dalam nuansa yang sangat menyentuh sampai
aku menitikkan air mata.
Dadaku ingin meledak rasanya. Pada momen ini, aku dan
Jimbron memahami bahwa persahabatan kami yang lama dan lekat lebih dari
saudara, berjuang senasib sepenanggungan, bekerja keras bahu-membahu sampai
titik keringat terakhir untuk sekolah dan keluarga, tidur sebantal, makan
sepiring, susah senang bersama, ternyata telah membuahkan “maslahat” yang tak
terhingga bagi kami. Persahabatan berlandaskan cinta kasih nan ikhlas itu telah
merajut ikata batin yang demikian kuat dalam kalbuku. Saking kuatnya sampai
memiliki tenaga gaib penyembuhan.
Berhari-hari
aku memikirkan kejadian aneh itu.
Siang ini aku menemukan jawabannya. Tiba-tiba aku mengerti
mengapa hukum membolehkan orang berusia delapan belas tahun ke atas menimbuni
dirinya dengan berupa-rupa kebobrokan. Sebab, pada usia itu, manusia sudah bisa
realistis. Itulah rahasia yang kutemukan. Ajaib, bagaimana manusia meningkat
dari satu situasi moral ke situasi moral lainnya. Hari ini sayap-sayap kecil
tumbuh di badan ulat kepompong, aku segera bermetamorfosis dari remaja menuhu
dewasa. Aku dipaksa oleh kekuatan alam untuk melompati garis dari
menggantungkan diri menjadi mandiri. Satu lapisan tipis tersingkap, membuka
mataku bahwa hidup yang terbentang di depanku akan semakin tak mudah.
Namun, tak pernah kusadari bahwa sikap realistis itu
sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan dekat dengan rasa pesimis.
Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.
Seakan kami bertanya, seakan kami peduli sekaran kami sangat
tertarik.
Tak sepicing pun aku dapat tidur. Aku terpuruk. Tak pernah
kualami malam yang tak kunjung berakhir seperti itu. Dalam situasi moral yang
paling rendah, kenangan lama yang pedih datang kembali, menyerbuku tanpa ampun.
Bayangan itu seperti film yang berputar-putar mengelilingiku, menari-nari
seperti hantu.
Jika seseorang menginginkan sesuatu selama belasan tahun
sampai hampir senewen, rupanya merasa takut saat keinginannya segera terwujud
di depan batang hidungnya.
Cinta yang patah berkeping-keping karena pengkhianatankah
yang paling menyakitkan? Bukan. Cinta yang dipaksa putus karena berbeda harta
benda, dan agamakah yang paling menyesakkan? Masih bukan. Cinta yang menjadi
dingin karena penyakit, aniaya, atau bosankah yang paling menyiksa? Bukan juga.
Atau, cinta yang terpisahkan samudra, lembah, dan gunung-gemunung yang paling
pilu? Bukan juga. Bagaimanapun pedih dilalui kedua sejoli dalam empat keadaan
itu mereka masih dapat saling mencinta atau saling membenci.
Namun, yang paling pedih adalah cinta yang tak pernah
peduli. Karena itu, seorang filsuf yang siang malam merenungkan seni mencinta
telah menulis love me or hate me, but
spare me with your indifference, maksudnya kurang lebih: cintai aku atau
sekalian benci aku, asal jangan abaikan aku.
Sungguh beruntung manusia yang dapat mengail kesenangan dari
hal-hal kecil yang sederhana.
Selama aku mengenal Arai, sejak kami masih sangat kecil
dulu, satu hal utama dalam kepribadiannya adalah dia sangat setia kawan dan
rela berkorban apa pun selama dia mampu demi kawan. Tak peduli bukanlah
sifatnya.
Aku terpana bercampur gugup dan cemas. Begitulah rasanya
jadi orang udik yang baru pertama kali ke ibu kota.
Yang kutahu bahwa aku telah sangat konsisten memeliharan
daya juangku untuk mencapai cita-cita. Aku tak pernah mau dilemahkan oleh siapa
pun, apa pun. Aku telah melewati masa-masa sulit untuk mendudukan diriku pada
satu posisi agar aku bisa bersaing vis a
vis menghadapi siapa pun dalam kompetisi mana pun. Aku telah berusaha,
hasilnya adalah nasib yang berada di tangan Yang Mahatinggi.

aku bingung nihh,kutipan untuk yang perwatakan arai,ikal,jimbron dll.. yang mana,kakk ????
BalasHapusItu aku ambil dari ikal semua. Soalnya di novel sang pemimpi tokoh 'Aku' itu sebagai Ikal.
Hapuskak aku boleh nanya gak, apa bedanya kutipan novel sama cuplikan novel
BalasHapus