Kamis, 14 Agustus 2014

Kutipan Novel Sang Pemimpi

Ini aku ngumpulin sendiri kutipan-kutipannya. Novel ini aku pinjem dari perpus sekolah ku.

Ini dia beberapa kutipan yang aku ambil dari novel Sang Pemimpi :
Sang Pemimpi
19:00 02/03/2014

Aku terpana dan langsung paham maksudnya. Luar biasa dan sinting! Itulah Arai dengan otaknya yang ganjil. Otakku berputar cepat mengurai satu per satu perasaan cemas, ide yang gila, dan waktu yang sempit.

Arai menyeringai seperti jin kurang sajen. Habis sudah kesabarannya dan meledaklah serapah khasnya yang legendaris.

Ajaibnya sang waktu, masa lalu yang menyakitkan lambat laun menjelma menjadi nostalgia yang tak ingin dilupakan.

Setiap dua minggu aku bertemu dengannya, tapi setiap hari aku merindukannya.



WC itu sudah hampir setahun diabaikan karena keran air yang mampat. Tapi, manusia-manusia cacing, pada intelektual muda SMA negeri yang tempurung otaknya telah pindah ke dengkul, nekat menggunakannya jika panggilan alam itu tak tertahankan. Dengan hanya berbekal segayung air saat memasuki tempat sakral itu, mereka menghinakan dirinya sendiri di hadapan agama Allah yang mengajarkan kebersihan adalah sebagian dari iman.

Ingin rasanya aku menggosok gigi Jimbron dengan sikat ubin WC itu, tapi aku masih sabar.

Kejadian ini terjadi seperti refleks, sangat cepat di luar kendaliku. Kemarahan setinggi puncak gunung terjadi satu detik, dan detik berikutnya, hatiku dingin seperti sebongkah es. Aku langsung terpuruk karena menyesal. Bukankah aku selalu berjanji kepada diriku sendiri akan selalu melindunginya?

Aku sedih menyadari ada sosok lain dalam diriku yang diam-diam bersembunyi, sosok yang tak kukenal. Sosok itu menjelma dengan cepat, lalu mendadak lenyap meninggalkan aku berdiri sendiri di depan Jimbron, yang ditumpuki rasa bersalah. Aku merasa sebagian diriku telah mengkhianati bagian diriku yang lain.

kuusahakan gaya bicaraku sebijaksana mungkin, seperti penyuluh KUA menasihati orang yang ingin menjatuhkan talak tiga.

dan menyebut “sahabatku” itu, kubuat nada suaraku selembut sutra dari Kashmir.

Kami berpandangan dalam nuansa yang sangat menyentuh sampai aku menitikkan air mata.

Dadaku ingin meledak rasanya. Pada momen ini, aku dan Jimbron memahami bahwa persahabatan kami yang lama dan lekat lebih dari saudara, berjuang senasib sepenanggungan, bekerja keras bahu-membahu sampai titik keringat terakhir untuk sekolah dan keluarga, tidur sebantal, makan sepiring, susah senang bersama, ternyata telah membuahkan “maslahat” yang tak terhingga bagi kami. Persahabatan berlandaskan cinta kasih nan ikhlas itu telah merajut ikata batin yang demikian kuat dalam kalbuku. Saking kuatnya sampai memiliki tenaga gaib penyembuhan.


Berhari-hari aku memikirkan kejadian aneh itu.

Siang ini aku menemukan jawabannya. Tiba-tiba aku mengerti mengapa hukum membolehkan orang berusia delapan belas tahun ke atas menimbuni dirinya dengan berupa-rupa kebobrokan. Sebab, pada usia itu, manusia sudah bisa realistis. Itulah rahasia yang kutemukan. Ajaib, bagaimana manusia meningkat dari satu situasi moral ke situasi moral lainnya. Hari ini sayap-sayap kecil tumbuh di badan ulat kepompong, aku segera bermetamorfosis dari remaja menuhu dewasa. Aku dipaksa oleh kekuatan alam untuk melompati garis dari menggantungkan diri menjadi mandiri. Satu lapisan tipis tersingkap, membuka mataku bahwa hidup yang terbentang di depanku akan semakin tak mudah.

Namun, tak pernah kusadari bahwa sikap realistis itu sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan dekat dengan rasa pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.

Seakan kami bertanya, seakan kami peduli sekaran kami sangat tertarik.

Tak sepicing pun aku dapat tidur. Aku terpuruk. Tak pernah kualami malam yang tak kunjung berakhir seperti itu. Dalam situasi moral yang paling rendah, kenangan lama yang pedih datang kembali, menyerbuku tanpa ampun. Bayangan itu seperti film yang berputar-putar mengelilingiku, menari-nari seperti hantu.

Jika seseorang menginginkan sesuatu selama belasan tahun sampai hampir senewen, rupanya merasa takut saat keinginannya segera terwujud di depan batang hidungnya.

Cinta yang patah berkeping-keping karena pengkhianatankah yang paling menyakitkan? Bukan. Cinta yang dipaksa putus karena berbeda harta benda, dan agamakah yang paling menyesakkan? Masih bukan. Cinta yang menjadi dingin karena penyakit, aniaya, atau bosankah yang paling menyiksa? Bukan juga. Atau, cinta yang terpisahkan samudra, lembah, dan gunung-gemunung yang paling pilu? Bukan juga. Bagaimanapun pedih dilalui kedua sejoli dalam empat keadaan itu mereka masih dapat saling mencinta atau saling membenci.

Namun, yang paling pedih adalah cinta yang tak pernah peduli. Karena itu, seorang filsuf yang siang malam merenungkan seni mencinta telah menulis love me or hate me, but spare me with your indifference, maksudnya kurang lebih: cintai aku atau sekalian benci aku, asal jangan abaikan aku.

Sungguh beruntung manusia yang dapat mengail kesenangan dari hal-hal kecil yang sederhana.

Selama aku mengenal Arai, sejak kami masih sangat kecil dulu, satu hal utama dalam kepribadiannya adalah dia sangat setia kawan dan rela berkorban apa pun selama dia mampu demi kawan. Tak peduli bukanlah sifatnya.

Aku terpana bercampur gugup dan cemas. Begitulah rasanya jadi orang udik yang baru pertama kali ke ibu kota.

Yang kutahu bahwa aku telah sangat konsisten memeliharan daya juangku untuk mencapai cita-cita. Aku tak pernah mau dilemahkan oleh siapa pun, apa pun. Aku telah melewati masa-masa sulit untuk mendudukan diriku pada satu posisi agar aku bisa bersaing vis a vis menghadapi siapa pun dalam kompetisi mana pun. Aku telah berusaha, hasilnya adalah nasib yang berada di tangan Yang Mahatinggi.

3 komentar:

  1. aku bingung nihh,kutipan untuk yang perwatakan arai,ikal,jimbron dll.. yang mana,kakk ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu aku ambil dari ikal semua. Soalnya di novel sang pemimpi tokoh 'Aku' itu sebagai Ikal.

      Hapus
  2. kak aku boleh nanya gak, apa bedanya kutipan novel sama cuplikan novel

    BalasHapus