Senin, 12 Januari 2015

Kutipan Novel Ranah 3 Warna

Ini aku ngumpulin sendiri kutipan-kutipannya. Sama seperti kutipan sebelumnya—kutipan novel Sang Pemimpi—Novel ini juga aku pinjam dari perpustakaan sekolahku. Udah lupa kapan bacanya. Tapi baru ada waktu saat ini buat berbagi kutipan yang aku kumpulin. Udah lama aku tulis di buku, tapi ya itu tadi, baru sempat aku ketik.




Ini dia beberapa kutipan dari novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi :
 
Jangan menyerah. Menyerah berarti menundah masa senang di masa depan.
 
Aku coba ikhlaskan semuanya
 
Bukankah kata pepatah, setiap perjalanan panjang harus dimulai langkah pertama?
 
Tetap ada yang hilang. Tetap ada yang terasa kurang.
 
Entah kapan kami bisa bertemu lagi.
 
Aku sekarang tidak lagi bisa bercerita, berdebat dan bercanda langsung dengan mereka
 
Tapi apa memang persahabatan bisa kendur karena jarak?
Aku yakin inti persahabatan tentu tidak rusak
Tapi jarak dan tempat tidak bisa berdusta
Berpisah secara fisik bisa meregangkan keintiman persahabatan
Karena tidak lagi disiram oleh pertemuan, canda dan diskusi
 
Dunia akan tetap berputar
Kenapa aku yang mengharapkan dunia yang berubah?
Seharusnya akulah yang menyesuaikan
dan dengan begitu bisa mengubah duniaku
 
Aku coba ikhlaskan semuanya
 
Jangan sampai putus asa
Karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita-cita
 
Teman tidak harus selalu bersama.
Teman juga tidak harus selalu berdamai.
Mungkin kadang-kadang kami perlu berpisah untuk lebih menghargai pertemanan ini.
Sekali-sekali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan.
Mungkin ini saat ini.
 
Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun menjadi nyata.
Pada waktu yang tidak pernah kita sangka-sangka.
 
Modalku hanya berani bermimpi,
walau sejujurnya, aku dulu tidak tahu cara menggapainya.
 
Bagaimanakah perasaan berada di sisi yang berbeda dari biasanya?
Dunia memang terus berputar seperti roda pedati.
Kadang kita diatas, kadang kita dibawah.
Alhamdulillah, kali ini aku berada di posisi atas.
 
Ada rasa cemas kehilangan,
walau tidak jelas kehilangan apa.
 
Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabat.
Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri.
Sebaliknya, laut badai ada untuk ditaklukan, bukan ditangisi.
Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh yang silih berganti ketika melintasi lautan tak bertepi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar