Minggu, 29 Maret 2015

PENGALAMAN DONOR DARAH PERTAMA KALI

Hei! Kali ini aku akan menceritakan tentang pengalamanku mendonorkan darah untuk yang pertama kalinya. Oke langsung saja,
Dulu waktu aku kelas 11, aku pengen banget ikut yang namanya donor darah. Waktu itu aku masih berumur enam-belas-tahun, jadi tidak memenuhi persyaratan untuk donor darah. Ekstrakulikuler di sekolahku mengadakan kegiatan Aksi Donor Darah. Dari kelasku, ada tiga calon pendonor darah. Tapi yang lolos cek hanya satu. Kenapa? Temenku yang pertama karena dia belum sarapan paginya, dan temenku yang kedua karena dia tensinya rendah. Kemudian aku meneguhkan hati dan meyakinkan diri bahwa tahun depan, ketika aku sudah berumur tujuh-belas-tahun aku harus mengikuti donor darah yang diselenggarakan di sekolahku ini.


Waktu berlalu, sehari, seminggu, sebulan, dan akhirnya setahun. Alhamdulillah aku kemarin Februari 2015 sudah berumur tujuh-belas-tahun, jadi aku bisa memenuhi salah satu persyaratan. Persyaratannya ada 3, pertama adalah berumur minimal 17 tahun, yang kedua adalah berat badan minimal 50 kg, dan yang ketiga adalah cukup istirahat.
Pada hari Senin sebelum donor darah—donor darah dilaksanakan hari sabtunya—adik kelas yang menjadi panitia memberikan surat yang berisikan form untuk menulis calon pendonor. Kemudian aku mengajak teman-temanku sekelas untuk ikut donor darah. Ada yang tidak mau dengan alasan takut jarum suntik, berat badan yang kurang, dan kurang istirahat, tapi mayoritas memang beralasan takut jarum suntik. Tak lupa aku juga mengajak teman plastikku, sahabat seper-gila-an yang selalu menggila sama-sama, Pras. Aku mengajak dia untuk ikut donor darah bersamaku. Kami memiliki misi gila bersama, yaitu ikut donor darah agar tidak kalah saing dengan seorang diluar sana yang entah berada dimana rimbanya. Dia akhirnya juga mau ikut mengingat misi gila tersebut, meskipun dia khawatir dengan masalah berat badanya yang mendekati batas minimal untuk calon pendonor darah. Kemudian aku mangajak teman lainnya. Berjalan kesana kesini, mengajak dan menghasut, akhirnya aku mendapatkan lima orang tambahan. Mereka adalah Gusti, Abi, Ellis, Singgih dan Bagus. Yeah! Karena hasutanku yang hebat, mereka setuju untuk mengikuti donor darah. Lalu aku tuliskan nama mereka di form calon pendonor. Tinggal menyiapkan fisik dan mental untuk menunggu hari-H. Sabtu 28 Maret 2015.

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat dan akhirnya tiba juga hari Sabtu! 5 hari berlalu cepet banget! Aku sudah siapkan fisik dan mental. Bahkan pada hari kamis, aku dan Pras ke UKS untuk menimbang berat badan dan mengukur tensi. Berat badanku dan dia berada diatas 50 kg, aku mengukur tensi dan didapatkan tensiku normal, tetapi Pras tidak melakukan pengukuran tensi. Kelas kami dijadwalkan untuk melaksanakan try out Ujian Nasional secara Online pada jam 1 siang. Tetapi kami sekelas berangkat seperti biasanya, karena akan ada les jurusan dan menyelesaikan beberapa praktek. Waktu kami menunggu jam masuk, kami bercanda dan bercerita tentang donor darah. Yang menjadi topik utama adalah tentang jarum suntik yang digunakan, karena mayoritas memang takut dengan jarum suntik tersebut. Aku juga membayangkan sedemikian rupa, dan aku sempat goyah untuk tidak mengikuti donor darah, tapi kemudian aku tangguhkan niatku agar aku jadi ikut donor darah. Penantian satu tahun ini tidak boleh sia-sia dan putus di tengah jalan. Lalu ada dua adik kelas yang menyerahkan surat izin untuk kelas 12 agar tidak mengikuti pelajaran selama kegiatan donor darah. Tak terasa kelas sudah dimulai. Diisi dengan sebagian siswa mengikuti les jurusan, dan sebagian lagi menyelesaikan praktek. Aku mengikuti les, yang dimulai saat itu sekitar pukul delapan. Pras bercerita bahwa dia khawatir tidak lolos tes fisik yang meliputi penimbangan berat badan, cek tensi dan tes darah. Aku berkata kepadanya agar optimis saja, pasti bisa. Aku ingin ke showroom untuk segera melaksanakan donor darah, tapi aku harus menunggu Abi dulu yang sedang menyelesaikan praktik. Waktu Abi sudah selesai, dan kami mau segera pergi, ternyata Gusti malah mengikuti praktek, dan kami harus menunggu lagi dan lagi. Sabar menunggu dan diisi dengan canda tawa, akhirnya dia selesai praktek dan akupun menyerahkan surat izin yang diberikan oleh adik kelas tadi kepada Bapak Guru yang mengajar les. Kami di beri izin dan di perbolehkan untuk meninggalkan pelajaran.
Kami bertujuh melangkah bersama menuju showroom dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri. Sesampainya disana, ternyata ruangan sudah penuh dengan calon pendonor darah. Lalu kami menuliskan nama didaftar antrian pendonor dan diberi formulir yang berisi pertanyaan dan identitas calon pendonor. Aku mendapatkan antrian nomor 74, dan teman-temanku mendapatkan nomor antrian setelahku. Kami juga diberi snack untuk mengisi perut selama menunggu hingga dipanggil nomor antriannya. Acara menunggu ini oleh panitia diisi dengan acara mengenai club motor, stand up comedy, dan pembagian doorprize. Entah lagi beruntung atau karena faktor tempat duduk, Gusti yang duduk paling depan dihampiri oleh pembawa acara, dia dimohon untuk maju ke depan apabila menginginkan doorprize. Gusti setuju lalu dia maju kedepan. Dia beri pertanyaan yaitu kepanjangan dari ADD KENZA, tetapi dia taunya hanya kepanjangan dari ADD—Aksi Donor Darah. Aku mencoba membantu memberi tahu kepanjangan dari KENZA, tapi ternyata aku juga salah, ahahaha. Pembawa acara yang sudah menyerah sepertinya kemudian dia memberitahu bocoran apa itu kepanjangan dari KENZA, lalu Gusti diminta untuk mengulangnya lagi.

Saat Gusti ditanyai mengenai kepanjangan ADD KENZA
 Dia sudah bisa menjawab kepanjangan dari ADD KENZA, dan akhirnya sang pembawa acara memberikan hadiah berupa sebuah kaos dari sebuah distro ternama. Tepuk tangan meriah kami berikan untuk teman kami yang beruntung ini. Setelah acara bagi doorprize, kami diputarkan filmnya Doraemon yang terakhir itu, judulnya Stand by Me. Kami larut menonton film hingga kami tak sadar bahwa pemanggil memanggil antrian nomor 50, 51, dan 52. Aku dan Pras saling memberitahu bahwa sebentar lagi nomor antrian kami akan dipanggil. Tak selang lama, aku, Pras dan Singgih dulu yang dipanggil, jadi teman kami lainnya masih menunggu. Kami bertiga memasuki ruang tes fisik dan membawa formulir yang diberikan tadi. Pertama aku harus menimbang berat badan dulu. Menurutku, berat badanku 58 kg, tapi menurut adik kelas yang menjadi panitia, berat badanku 57 kg. Tak apalah turun sekilo. Tapi hal serupa juga terjadi kepada Pras ketika dia menimbang berat badan. Menurut dia, berat badannya 50 kg, tapi menurut adiknya 49 kg. Lalu aku menyimpulkan sebuah rumus, yaitu berat badan dikurangi satu. Pras dinyatakan tidak lolos berat badan, kemudian dia mengantri bersamaku untuk menunggu giliran cek tensi dan tes darah. Aku dulu mendapat giliran, aku gugup ketika tes fisik itu, sehingga detak jantungku meningkat, yang mengasilkan tensiku 120. Setelah itu aku melakukan tes darah. Pengambilan darah dilakukan seperti dulu aku melakukan tes golongan darah di sebuah puskesmas, yaitu dengan sebuah alat yang mirip dengan bolpen. Tidak sakit rasanya, kemudian darah keluar dan dites oleh sang penguji. Aku dinyatakan lolos semua tes fisik. Adik kelas tadi kemudian menanyakan apakah aku lolos atau tidak, dan dia memintaku untuk menyerahkan formulirnya kepadanya, tapi tidak kuberikan dan malah aku sembunyikan dibalik badan. Tapi dia terus meminta dan akhirnya aku berikan. Dia mencatat nomor antrianku, lalu menyuruhku segera melaksanakan donor darah. Tapi aku tidak mau karena aku mau menunggu teman yang lainnya. Kekhawatiran itu akhirnya terjadi. Setelah Pras tidak lolos berat badan, dia juga tidak lolos cek tensi. Lalu aku tanya kepada sang penguji, berapa tensinya dia, lalu aku diberitahu bahwa tensinya 100. Darah rendah. Karena aku semakin disuruh-suruh untuk segera melakukan donor darah, akhirnya aku memutuskan untuk donor darah, tanpa menunggu teman yang lainnya. Aku diantarkan oleh adik kelas lain yang menjadi panitia ke ruangan tempat donor darah. Adiknya berkata bahwa aku akan di bis untuk donor darah, tapi aku tidak mau. Aku meminta agar aku donor darah di UKS saja yang ada Wi-Fi nya. Aku diperbolehkan, dan segeralah aku meluncur ke UKS. Dalam perjalanan ke UKS aku melihat Pras berlari menuju bengkel, mungkin saking kecewanya dia hingga berlari begitu cepatnya.

Aku memasuki ruang UKS. Aku menjadi semakin gugup. Ada dua dokter disana. Pertamakali tiba, aku diarahkan ke dokter yang laki-laki, tetapi aku meminta dokter yang perempuan. Entah kenapa aku masih gugup, lalu aku ingin minum. Aku bertanya pada bu dokter, apakah ada air minum atau tidak, ternyata ada. Untuk mengurangi rasa gugupku, aku minum dulu dari galon yang ada di seberang. Aku juga meminta kepada bu dokter agar mengajakku berbicara ketika donor darah nanti, agar aku tidak semakin gugup. Setelah minum segelas air lalu aku berbaring di kasur dan siap untuk donor darah. Bu dokter sedang menyiapkan peralatannya ketika aku mengeluarkan Lumia ku dari saku untuk menghubungkan ke Wi-Fi. Lalu lengan tanganku dibalut alat pengukur tensi, dan dibagian lengan yang biasanya digunakan untuk donor darah permukaanya dibersihkan menggunakan suatu cairan yang aku tak tahu namanya. Bu dokter kemudian memompakan udara ke alat tensi itu dan menyuruhku untuk mengepal tanganku, kemudian jarum melesat masuk ke nadiku.


Donor darah
Tak sakit rasanya ketika jarum menusuk kulitku, dan ketika jarum sudah masuk di nadiku, bu dokter menyuruhku untuk melepas kepalan tangan. Ketika aku mencoba melihat, aku melihat cairan merah mengalir melalui selang. Seperti yang sudah disepakati, bu dokter mengajakku bicara. Aku bertanya tentang berapa banyak darah yang diambil—350 cc—,berapa waktu yang dibutuhkan—sekitar 7 sampai 15 menit—, jurusanku, tentang perusahaan juga. Aku melihat Abi dijendela menuju UKS. Itu artinya kami akan berada di ruangan yang sama untuk melakukan donor. Aku senang karena aku mendapatkan teman di ruangan ini, dan ternyata dia donor di ranjang sebelah kiriku. Aku penasaran, dimana 4 temanku yang lainnya. Ketika bercerita kesana kemari dengan bu dokter, aku juga menyempatkan diri untuk memotret lenganku yang terhubung dengan jarum dan selang, serta ada kantong darah dibawah sana. Karena aku hanya bisa memotret dibagian lengan saja, aku meminta bu dokter untuk memotretku. Aku juga sempat berfoto bersama Abi.


Saat berfoto bersama Abi (sebelah kanan)
Ini kulakukan agar ada dokumentasi bahwa aku telah mengikuti donor darah. Sesi pemotretan berakhir, sebentar lagi aku akan selesai donor darah. Pada awal ketika darah sudah mengalir ke kantung darah, aku merasa biasa saja. Tetapi saat hampir selesai, ketika bu dokter melepas jarum  dilenganku, aku merasakan jantungku berdetak lebih pelan dan rasanya pusing. Bu dokter lalu membersihkan lenganku, melepas alat pengukur tensi, dan menempelken plester luka di tempat bekas jarum masuk nadiku. Bu dokter juga bertanya apakah aku mau muntah atau tidak, aku mengatakan tidak. Dia bertanya apakah aku ingin minum teh atau tidak, dengan yakin aku menjawab iya. Seketika aku merasakan detak jantung yang berdetak lebih pelan dari yang tadi, seakan detakannya terdengar jelas di telingaku, kepala yang pusing, dan tubuhku
Aku yang lagi donor darah
ternyata berkeringat. Mungkin karena ini pertamakalinya aku melakukan donor darah, beginilah reaksi tubuhku. Aku berbaring sebentar agar merasa agak enakan. Pak dokter yang tadi menangani Abi, membantu menghilangkan pusingku dengan mengangkat kakiku. Aku pernah membaca, bahwa meninggikan kaki diatas jantung dapat mengurangi pusing. Bantal yang digunakan aku ambil dan aku gunakan sebagai guling. Tetapi oleh pak dokter malah diambil dan digunakan untuk menopang kedua kakiku yang disilangkan agar tetap melebihi jantung. Teh sudah hadir, tetapi aku belum bisa berdiri karena masih lemas, aku meminta bu dokter untuk menyuapi ku, tapi tidak ada sendok, jadi aku minumnya nanti ketika aku sudah bisa duduk. Aku merasa lebih enakan dari sebelumnya. Aku menoleh ke kiri, melihat Abi sudah selesai donor tetapi dia masih berbaring. Dia berkata bahwa wajahku menjadi pucat. Karena tidak ada cermin, aku memohon kepada dia untuk memotretku. Setelah aku melihat fotoku sendiri, ternyata Abi benar bahwa aku menjadi pucat. Setelah beberapa saat, aku akhirnya bisa duduk dan minum teh yang diberikan kepadaku. Entah doyan atau enak, aku malah menginginkan teh itu lagi, tapi hanya disediakan satu olehku. Setelah itu aku turun dari ranjang dan mengenakan sepatu, aku meminta Abi agar menunggu ku. Aku berdiri tetapi masih agak merasakan pusing. Kemudian aku menulis namaku, nomer HP, dan golongan darah di lembar formulir, tetapi tanganku malah menulis dengan gemetaran, dan ada adik kelas yang memerhatikan bahwa aku menulis dengan tangan gemetar lalu dia bertanya "kok gemetar e mas?", "iya e dek", jawabku. Disana ada sebuah pertanyaan, "Apakah anda mau menjadi pendonor tetap atau tidak?", sesaat aku mencentang TIDAK, lalu Abi malah mentertawaiku karena mencentang tidak. Ku coret centanganku tadi dan kupindahkan ke kolom centang YA. Setelah selesai menulis kami mendapatkan bingkisan berwarna hijau yang berisikan mie cup instan, obat penambah darah, biskuit, dan minuman penambah ion tubuh. Aku merasakan perutku yang lapar, lalu aku mencari tempat duduku karena aku pusing lagi. Dengan liar, aku buka segel plastik mie instan itu. Karena aku masih lemas, aku meminta bantuan Abi untuk mengambilkan air panas untuk menyeduh mie instan ini. Aku campurkan semua bumbunya dan aku aduk agar segera matang. Aku makan dengan cepat seperti tidak dikunyah karena aku saking laparnya. Ketika baru menyantap setengah, Abi mengajakku untuk makan diluar saja karena agar bisa ngadem. Setelah selesai makan, aku sudah lebih lebih dan lebih baik daripada sebelumnya. Aku sudah bisa berdiri tanpa pusing, lalu aku mengak Abi untuk kembali ke bengkel.

Aku dan Abi kembali ke bengkel tepat setelah les jurusan dan praktik dilaksanakan. Di bengkel aku menemui teman sekelas lainnya dan bercerita tentang bagaimana tadi donor darahnya sambil memakan biskuit. Cerita kesana-kemari dan aku menunjukkan foto ketika aku sedang donor darah. Baru ku ketahui ternyata selain Pras, ada lagi temanku yang tidak lolos tes fisik. Mereka adalah Gusti dan Ellis. Gusti tidak lolos karena tensinya rendah, dan Ellis tidak lolos karena dia beberapa hari terakhir mengonsumsi obat.  Jadi dari kami bertujuh calon pendonor darah, hanya 4 yang berhasil. Yaitu aku sendiri, Abi, Bagus dan Singgih. Lalu kami sekelas menyiapkan barang-barang kami untuk pindah ruangan untuk melaksanakan try out Ujian Nasional Online.
SELESAI :)

6 komentar:

  1. Beneran ga sakit kan ya kak? ahahah.

    BalasHapus
  2. Itu, waktu jarum masuk ke kulit untuk beberapa menit, rasanya gimana? Pasti ada rasa sakitnya yah? Jelasin dong rasa sakitnya gimana? Kalau di ibaratkan rasa sakitnya seperti apa?
    Balas, please! Soalnya gue punya niat buat mendonor darah.

    Thanks sudah share pengalaman ((:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hei! Maaf baru sempat membalas. Rasanya gak sakit kok, kalo menurutku sakitnya cuman sebentar waktu jarumnya pertama masuk ke kulit, habis itu asalkan rileks gak sakit kok. Hmmmm aku ga bisa menemukan padanan yang tepat untuk mengibaratkan rasa sakitnya, karena cuman bentar sih sakitnya. Ayoo donor aja! Asalkan tenang dan rileks ga bakal kerasa kok sakitnya

      Hapus